Dokumentasi resmi kegiatan AFA UNDIP di Universitas Diponegoro

AFA UNDIP – Masuki Tahap Hilirisasi Bisnis

UNDIP, Batang (26/10) – Universitas Diponegoro (UNDIP) meluncurkan produkArtificial Fish Apartment(AFA), inovasi habitat ikan berbasis materialFly...

UNDIP, Batang (26/10) – Universitas Diponegoro (UNDIP) meluncurkan produkArtificial Fish Apartment(AFA), inovasi habitat ikan berbasis materialFly Ash and Bottom Ash(FABA), di lokasi pengujian perairan PLTU Batang yang dikelola PT Bhimasena Power Indonesia (PT BPI). Peluncuran ini menjadi momentum penting dalam pengembangan AFA dari hasil riset dan penerapan lapangan menuju peluang pemanfaatan yang lebih luas melalui skema Hibah Dorongan Teknologi Hiliriset Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendikti Saintek).

Berbeda dari program hilirisasi yang berfokus pada penyelesaian hambatan teknologi, AFA dikembangkan melalui skema Business Matching. Pendekatan ini diarahkan untuk mempertemukan produk inovasi dengan kebutuhan calon pengguna dan mitra usaha, sekaligus menjajaki model kerja sama yang dapat mendukung keberlanjutan pengembangan produk.

Melalui rangkaian pertemuan bisnis yang telah terlaksana, pengembangan AFA memasuki tahap penting untuk mengidentifikasi peluang penerapan, membangun kemitraan, dan merumuskan langkah lanjutan menuju pemanfaatan komersial. Tahap berikutnya adalah menindaklanjuti hasil pertemuan tersebut menjadi kerja sama yang lebih konkret sesuai kebutuhan mitra dan kelayakan bisnis.

Teknologi Habitat Ikan Modular Berbasis FABA

AFA dikembangkan oleh Universitas Diponegoro sebagai struktur habitat buatan berbentuk kubus terbuka berbahan beton FABA yang dirancang saling mengunci. Sistem modular ini memungkinkan struktur ditata dan disesuaikan dengan kondisi lokasi, serta dirancang untuk meningkatkan kompleksitas habitat dan menyediakan ruang berlindung bagi ikan.

Inovasi ini menggabungkan rekayasa struktur habitat laut dengan pendekatan ekonomi sirkular melalui pemanfaatan FABA sebagai bahan baku. Dengan desain modular, AFA berpotensi dikembangkan untuk berbagai kebutuhan pengelolaan habitat perairan, sepanjang sesuai dengan kondisi ekologis, persyaratan teknis, dan ketentuan yang berlaku.

Pengembangan AFA juga mencerminkan upaya UNDIP, dalam mengintegrasikan penelitian, penerapan teknologi, dan kemitraan industri. Teknologi ini telah diterapkan di sejumlah perairan di Jawa Tengah melalui kolaborasi dengan mitra industri, sehingga pengembangannya memiliki pengalaman lapangan sebagai dasar untuk evaluasi dan penyempurnaan lebih lanjut.

Didukung Bukti Pemantauan Lapangan

Sorotan Utama dan Perkembangan Kegiatan

Dalam pemantauan habitat buatan berbahan FABA di perairan Batang pada Juni 2025, struktur AFA tercatat dimanfaatkan oleh komunitas ikan dengan temuan 13 spesies dan 111 individu. Ikan target mencapai 59 persen dari jumlah individu yang diamati pada AFA.

Temuan tersebut memberikan indikasi awal mengenai pemanfaatan struktur AFA oleh ikan dan menjadi salah satu dasar untuk melanjutkan evaluasi ekologis. Hasil pemantauan ini tetap perlu dibaca sesuai cakupan pengamatan dan tidak dengan sendirinya membuktikan peningkatan populasi ikan atau produktivitas perikanan dalam skala kawasan.

Ke depan, pemantauan berkala diperlukan untuk mengevaluasi dinamika komunitas ikan, fungsi habitat, dan keberlanjutan kinerja struktur. Pengujian mutu material, keselamatan lingkungan, penyempurnaan desain, serta pengembangan prosedur operasi dan pengendalian mutu juga menjadi bagian penting dalam mempersiapkan penerapan yang lebih luas.

Membuka Peluang Bisnis Produk dan Jasa Kelautan

Potensi hilirisasi AFA tidak terbatas pada penjualan unit struktur. Teknologi ini berpeluang dikembangkan sebagai penyediaan produk sekaligus layanan pengembangan habitat laut, mulai dari perencanaan lokasi, desain, produksi, pemasangan, pemeliharaan, pemantauan biodiversitas, pelatihan, hingga penyusunan laporan dampak.

Model layanan tersebut membuka peluang kemitraan dengan industri, pemerintah daerah, pengelola kawasan pesisir, sektor pariwisata bahari, serta program tanggung jawab sosial dan lingkungan perusahaan atau CSR/ESG.

Dalam pengembangannya, AFA juga memiliki peluang untuk memperkuat keterlibatan pelaku usaha lokal dan masyarakat pesisir, misalnya melalui jasa pendukung pemasangan, pemeliharaan, pemantauan partisipatif, dan edukasi konservasi. Bentuk keterlibatan tersebut perlu disesuaikan dengan kebutuhan program dan kapasitas para pihak.

Untuk mendukung pengembangan bisnis yang berkelanjutan, UNDIP, perlu melanjutkan validasi mutu dan keamanan material, standardisasi, penghitungan biaya produksi dan pemasangan, serta evaluasi kelayakan ekonomi. Langkah ini penting agar penawaran AFA kepada calon mitra didukung oleh spesifikasi produk, struktur biaya, standar layanan, dan bukti kinerja yang jelas.

Dampak Strategis dan Kolaborasi Berkelanjutan

Dari Inovasi Kampus Menuju Kemitraan Industri

Rektor Universitas Diponegoro menyampaikan bahwa hilirisasi AFA merupakan bagian dari komitmen perguruan tinggi untuk membawa hasil penelitian menuju pemanfaatan yang relevan dengan kebutuhan masyarakat dan dunia usaha dengan kata lain inovasi UNDIP, dapat mewujudkan Link & Match antara pergurun tinggi, UNDIP, dengan industri.

Kolaborasi dengan PT BPI dan mitra terkait diharapkan memperkuat proses pengujian, evaluasi, serta penjajakan penerapan teknologi. Sementara itu, keterlibatan mitra produksi dan calon pengguna dapat membantu membangun rantai nilai yang menghubungkan pengembangan teknologi dengan kebutuhan pasar.

Pengembangan AFA juga sejalan dengan agenda pembangunan berkelanjutan, khususnya SDG 14 tentang Ekosistem Lautan, SDG 12 tentang Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab, SDG 9 tentang Industri, Inovasi dan Infrastruktur, SDG 13 tentang Penanganan Perubahan Iklim, serta SDG 17 tentang Kemitraan.

Dalam aspek lingkungan, pemanfaatan FABA membuka peluang untuk mengembangkan pendekatan ekonomi sirkular. Adapun klaim mengenai pengurangan jejak karbon produk memerlukan pengujian melalui analisis daur hidup atauLife Cycle Assessment(LCA). Demikian pula, peluang integrasi dengan proyek karbon biru harus didukung kajian ekosistem dan pengukuran yang sesuai, bukan hanya berdasarkan keberadaan struktur habitat buatan.

Melalui skemaBusiness Matching, Universitas Diponegoro mendorong AFA untuk berkembang dari inovasi yang telah memiliki pengalaman penerapan lapangan menjadi produk dan layanan yang semakin siap memenuhi kebutuhan mitra. Tahap selanjutnya adalah memperkuat kemitraan, memvalidasi model bisnis, dan membangun sistem produksi serta layanan yang dapat dikembangkan secara bertanggung jawab.

TentangArtificial Fish Apartment(AFA)

Artificial Fish Apartmentmerupakan inovasi struktur habitat ikan modular berbahan beton FABA yang dikembangkan oleh Universitas Diponegoro. Produk ini dirancang untuk menyediakan kompleksitas habitat dan ruang berlindung bagi ikan melalui struktur kubus terbuka yang saling mengunci. Pengembangannya menggabungkan rekayasa habitat laut, pemanfaatan material berbasis FABA, evaluasi ekologis, dan penjajakan model bisnis untuk mendukung hilirisasi inovasi kelautan. (Komunikasi Publik/ UNDIP)